SERANG — Berakhir sudah perjalanan Sriwijaya FC di panggung sepak bola profesional Indonesia. Klub legendaris yang pernah menjadi momok menakutkan di kasta tertinggi tanah air ini, resmi menutup kompetisi Pegadaian Championship 2025/2026 dengan hasil yang sangat memilukan. Tim berjuluk Laskar Wong Kito ini harus pamit dan turun kasta ke Liga Nusantara (Liga 3) setelah menyudahi musim tanpa mengantongi satu pun kemenangan.
Kepastian runtuhnya sang mantan raksasa terjadi di Banten International Stadium, Kabupaten Serang, pada Jumat, 2 Mei 2026. Menghadapi tuan rumah Adhyaksa FC Banten dalam laga pamungkas Grup 1 Wilayah Barat, skuad Elang Andalas digulung dengan skor telak 4-0.
Sejak menit awal, Sriwijaya FC langsung didikte oleh agresivitas tuan rumah. Gawang Laskar Wong Kito diberondong empat gol tanpa balas yang masing-masing dicetak oleh Rafly (22', 80'), Ramiro Fergonzi (73'), dan Rafly Angga (90+2'). Bagi Adhyaksa FC, kemenangan ini mengunci posisi mereka sebagai runner-up Grup A di bawah Garudayaksa FC untuk memperebutkan tiket tersisa ke Liga 1. Namun bagi Sriwijaya FC, kekalahan ini menjadi titik akhir yang tragis.
Statistik Tragis: Hanya Kemas 2 Poin Sepanjang Musim
Nafas Sriwijaya FC di kompetisi kasta kedua ini sebenarnya sudah tampak habis sejak Februari 2026. Kekalahan dari klub seprovinsi, Sumsel United, pada bulan tersebut secara matematis sudah menyegel nasib buruk Laskar Juaro. Namun, demi menjaga profesionalisme, klub tetap melanjutkan sisa laga hingga Mei 2026 dengan kondisi pincang.
Hingga akhir musim reguler, catatan statistik yang ditorehkan Elang Andalas sangat memprihatinkan. Dari total 27 laga yang dimainkan, Sriwijaya FC:
Menang: 0 kali
Seri: 2 kali
Kalah: 25 kali
Total Poin: 2 poin
Kondisi tim yang carut-marut sempat melahirkan rekor kelam pada putaran pertama, di mana Sriwijaya FC dibantai habis oleh Adhyaksa FC dengan skor mencolok 15-0. Hasil minor ini tidak terlepas dari kekacauan internal klub, mulai dari krisis finansial yang akut hingga tidak stabilnya struktur kepengurusan.
Utang Rp42 Miliar dan Ditinggal Sponsor Utama
Krisis finansial yang mencekik Sriwijaya FC kian berat sejak akhir tahun 2025. Manajemen klub dikabarkan kelimpungan mencari investor baru demi menutup beban utang yang dilaporkan membengkak hingga Rp42 miliar.
Keadaan ini mencapai puncaknya pada 31 Desember 2025. Di saat operasional klub membutuhkan suntikan dana besar, dukungan dari sponsor utama justru dihentikan. Berhentinya sokongan dana ini seketika melumpuhkan roda operasional klub dan merusak fokus para pemain di sisa kompetisi.
Runtuhnya Kedigdayaan Penguasa Double Winner
Terlemparnya Sriwijaya FC ke Liga 3 bak petir di siang bolong bagi pencinta sepak bola nasional yang mengingat betul kharisma klub ini. Lahir pada 23 Oktober 2004 di masa pemerintahan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman, SFC dengan cepat menjelma menjadi simbol kebanggaan masyarakat Sumatra Selatan.
Tinta emas langsung ditorehkan pada tahun 2007 saat Laskar Wong Kito mengawinkan gelar juara Divisi Utama Liga Indonesia dan Copa Indonesia (Double Winner) secara bersamaan. Di era kepemimpinan Gubernur Alex Noerdin (yang telah wafat pada 25 Februari 2026), kejayaan itu berlanjut. Sriwijaya FC rutin mewakili Indonesia di level Asia melalui ajang AFC Cup pada rentang tahun 2008 hingga 2011.
Dominasi mereka kembali terulang pada tahun 2012 saat sukses mengangkat trofi Indonesia Super League (ISL).
Linimasa Kemunduran Sriwijaya FC:
2015–2018: Performa tim mulai digerogoti konflik internal dan lemahnya tata kelola manajemen.
2019: Sriwijaya FC resmi degradasi dari Liga 1 ke Liga 2.
2023: Kesulitan finansial mulai menghantui akibat minimnya ketertarikan sponsor.
Desember 2025: Pemutusan dukungan sponsor utama berujung pada lumpuhnya operasional tim.
Mei 2026: Resmi degradasi ke Liga Nusantara (Liga 3) tanpa satu pun kemenangan.
Kini, stadion megah dan riuh kepakan sayap Elang Andalas di kancah Asia hanya tinggal kenangan. Sriwijaya FC harus memulai langkah dari titik nol di Liga Nusantara, merajut kembali sisa-sisa kejayaan yang hancur lebur demi bisa kembali ke tempat yang semestinya.






